Menantikan Nala
Reno berjalan menyusuri koridor bandara yang pada pukul delapan pagi ini sudah dipenuhi orang di segala sudutnya. Dipenuhi orang-orang yang sedang berpamitan, orang-orang yang melepas kepergian, dan yang terakhir, orang-orang yang menantikan sebuah kedatangan. Reno termasuk ke dalam kategori yang terakhir. Orang yang sedang menjemput kepulangan seseorang.
Bagi sebagian besar orang, Minggu pagi yang cerah ini terlalu indah untuk dilewati bermacet-macet ria di tol menuju bandara dan menghabiskan waktu hampir satu jam di parkiran untuk mempertarungkan satu spot parkir. Tapi tidak bagi Reno. Ini merupakan ritual yang tidak akan pernah ia lewati. Walaupun ide mengenai bandara dan kaitan eratnya dengan berpergian jarak jauh membuatnya tidak nyaman, namun ia tidak akan melewatkan ritual penjemputan ini yang bermula sejak dua tahun lalu. Kejadian yang disebut oleh para sahabatnya dengan kejadian ‘when Nala happened’.
Actually, Reno hates airport. He hates goodbye. He hates to go to some new place. He hates the idea of leaving. Things he likes the most? He likes to be right where he thinks he belongs. His comfort zone. His workshop, surrounded by automotive parts, in-between tires, the smell of gasoline. The true definition of home, at least, for him.
But then, it changed when Nala entered his life. Sesosok perempuan yang kala itu menabrakkan mobil abangnya—yang kebetulan sahabat dekat Reno—ke pembatas jalan tol. Perkenalan mereka dimulai di bengkel milik Reno, dengan campur tangan mobil dengan kondisi bumper rusak dan abang Nala yang pasrah dengan keadaan naas mobilnya yang baru saja lunas dicicil.
Jika seseorang meminta Reno untuk menggambarkan sosok Nala di matanya, ia dapat dengan mudah menjawab bahwa Nala ialah sebuah kutub yang bersebrangan dengan dirinya. Segala hal yang tidak ada pada diri Reno, dan segala ketakutan serta hal-hal yang ia tidak sukai ada di dalam Nala. They have, literally, nothing in common.But, they attract each other.
Nala—yang sangat jarang berada di Jakarta—memang tidak terlalu memiliki banyak teman di ibukota karena pekerjaannya yang menuntut dia untuk selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seorang Reno, yang dapat dibilang tidak pernah beraktivitas jauh dari apartemen dan bengkel miliknya, tanpa diduga dapat menjadi teman yang mengisi hari-hari Nala di Jakarta. Dalam rentang waktu beberapa bulan yang mereka habiskan bersama, they fell in love.
Hingga tiba waktu di mana Nala harus pergi kembali ke bagian Timur Indonesia untuk melakukan pekerjaannya. Meninggalkan Reno yang bingung—apakah ia bisa menghadapi segala penantian panjang untuk menunggu Nala kembali ke Jakarta? Apakah ia siap terpisahkan oleh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer—keluar dari comfort zone-nya?
Pagi itu, masih teringat jelas di pikiran Reno. Di terminal berapa ia mengantar kepergian Nala, bangku di ruang tunggu mana yang menjadi tempat ia melepas kepergiannya, bagaimana ia kemudian dapat mengerti arti dari sebuah pergi dan menjadi sebuah pulang bagi seseorang.
“Then, what, La?”
“Apanya, Ren?”
“Yes, you’re back to your work now. Going here and there. Being here and there. What about us?”
Nala tidak menjawab langsung pertanyaannya. Perempuan itu malah mengajaknya pergi menuju kedai donat favoritnya yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka duduk. Reno merasa gelisah—takut lebih tepatnya. Takut jika ia harus melepaskan perempuan yang sudah mengisi hari-harinya beberapa bulan ini. Takut jika ia harus menjalani hubungan jarak jauh, suatu hal ia percayai sebagai sebuah omong kosong.
Setelah menghabiskan beberapa potong donat dan dua gelas kopi serta pengumuman di layar yang menunjukkan bahwa penerbangan Nala sudah berubah status menjadi boarding, Nala—yang menyadari kegelisahan Reno—membuka mulut.
“Ren, you’re my home. I will be back. To you. Soon.”
Sebaris kalimat yang keluar dari bibir Nala kemudian dapat menghapuskan segala ketakutan yang ada di dalam diri Reno.
Setelah kejadian di kedai donat dua tahun lalu, di sinilah Reno berdiri dengan setia. Menunggu di pintu kedatangan bandara entah untuk keberapa kalinya. He lost his counts since a long time ago. Menunggu sesosok perempuan dengan satu tas ransel di pundaknya dan satu koper berukuran cabin di genggamannya. Sesosok perempuan yang selalu keluar dari pintu kedatangan dengan senyum lebar, walaupun Reno melihat lelah dengan jelas dari matanya. Sesosok perempuan yang membuat Reno berdamai dengan kepergian, akrab dengan bandara dan berteman baik dengan penantian.
Reno mengadahkan kepalanya, matanya tertuju pada layar pengumuman kedatangan. Sudah kurang lebih 30 menit penerbangan Nala berubah menjadi landed. Jantungnya berdebar tidak karuan, suhu udara di ruang tunggu tersebut mendadak naik drastis menghasilkan keringat di tangan dan dahinya. Tangan kanan Reno menggenggam sesuatu di kantong jaketnya.
Satu persatu orang telah keluar dari pintu tersebut. Reno semakin gelisah. Genggamannya semakin erat pada sebuah kotak kecil di kantong jaketnya. Sampai matanya menemukan sesosok perempuan berambut sebahu yang sedang tersenyum lebar pada dirinaya. Sesosok perempuan yang mengakhiri penantiannya.
Penantian yang menurut Reno paling manis bagi dirinya. Menantikan Nala.
“Hey, homebody.” Sapa Nala yang disambut oleh pelukan hangat Reno.
“How’s your flight?”
“As usual. Sesajen aku mana?” Nala terlihat bingung tidak ada gelas karton berisikan kopi di genggaman Reno.
“I have one better.”
Saat itulah Reno mengeluarkan kotak kecil dari kantong jaketnya, kemudian membukanya di hadapan Nala seraya berkata, “From now on, please come home with me, will you?”
Nala tersenyum tipis sambil memandang Reno bergantian dengan cincin di dalam kotak tersebut, “You are already my home, remember?”
Reno tidak dapat lebih bahagia lagi selain menjadi rumah bagi Nala yang selalu menyambutnya dengan tangan lebar, siap memeluk dengan erat setiap kali perempuan itu pulang. Pulang menuju dirinya.
Comments
Post a Comment