Kania di bulan November

HELLO! udah lama gak ngepost nih hehe padahal lagi minggu UB tapi gue malah bandel ikutan project-nya @nulisbuku buat nulis tentang tema Goodbye November. sekalian mau gue posting kesini tulisannya muehehehe enjoy!


Kania di bulan November
Shofagi Raniyah (@agiueo)
Kania berdiri di depan cermin, memastikan penampilannya sekali lagi. Tangannya bergerak membereskan poni yang mulai bertumbuh panjang. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang sangat akrab di telinganya dan sangat ia sukai. Suara gemericik air yang turun dengan perlahan-lahan dari langit. Hujan.
Ia melirik ke arah kalender yang tergantung di sisi dinding lainnya, dan tersenyum. Sekarang sudah memasuki bulan November, yang berarti hari-hari Kania akan ditemani oleh hujan dan juga ia mulai memasuki bulan yang paling spesial baginya diantara sebelas bulan lainnya.
Ia pun berjalan mendekati jendela kamarnya, lalu menyibakkan tirainya besar-besar. Titik-titik hujan yang menghiasi jendela serta embun menghalangi pandangannya. Bau tanah yang bercampur dengan air serta udara yang dingin menyergapinya saat ia membuka jendela tersebut, membuat senyum dibibirnya mengembang.
“Selamat pagi, hujan. Selamat pagi, Re...” sapanya kepada rintik-rintik alus yang semakin lama semakin membuat halaman rumahnya basah. Matanya menerawang ke langit, seolah berharap seseorang akan tampak dari balik awan-awan gelap itu.
Setelah beberapa menit menikmati hujan dan menghirup udara dingin yang perlahan menusuk kulitnya, Kania menutup kembali jendela tersebut. Lalu, ia pun meraih kunci mobil dan tasnya yang terletak di atas meja dan meninggalkan kamarnya.
---
Suara klakson mobil di jalan memeriahkan pagi Kania yang tenang dan damai. Hujan yang bertambah lebat masih setia menemani Kania dalam perjalanannya menuju ke kampus. Sudah setengah jam ia terjebak macet di jalan, hujan yang sedari pagi tidak berhenti itu memang menyebabkan beberapa jalanan banjir sehingga sulit dilalui oleh kendaraan. Apalagi letak kampusnya yang dikelilingi oleh gedung-gedung perkantoran, membuat jalanan yang biasa dilaluinya tidak pernah sepi oleh kendaraan.
Tidak seperti kebanyakan orang yang langsung mengeluh dan mengumpat hujan karena menyebabkan mereka terjebak di dalam macet, Kania malah tidak bisa berhenti tersenyum melihat tetesan-tetesan air tersebut yang jatuh bebas dari langit.
‘Hujan tidak salah apa-apa. Hujan adalah karunia.’ Batin Kania sambil tersenyum. Ia pun menghidupkan iPod-nya dan mulai bersenandung kecil sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas stir mobil.
Tiba-tiba handphone di saku jeans-nya berbunyi. Tampak di layar bertuliskan ‘Arga calling...’
“Morning, Nia. Kejebak macet, ya?” sapa Arga diseberang sana.
“Morning, Ga. Iya, nih. Tapi nggak apa-apa, kok, aku jadi bisa nikmatin hujan ini lebih lama lagi.”
“Hahaha... aku kadang masih nggak percaya kalo kamu sekarang suka hujan. Maniak, malahan. Bukan kamu banget. Seenggaknya kamu 5 tahun yang lalu.” Arga tertawa renyah, membuat Kania ikut tertawa.
“Hahaha, everyone changes, right? Kayaknya Reindra sengaja ngirim hujan sekarang, supaya kita nggak lupa kalo hari ini hari spesial buat dia...”
“Iya, kayaknya dia sengaja deh ngirim hujan ini dari semalem. Niatnya sih buat ngingetin kita, tapi kayaknya semua orang jadi kena imbasnya, deh. Oh ya, nanti kamu jadi ke tempat dia? Mau bareng?”
“Jadi, kok. Nggak, deh. Kamu nanti mau ketemu orang dulu, kan? Nanti kamu nyusul aja.” Mobil di depan Kania mulai bergerak, ia pun bersiap-siap mengakhiri pembicaraannya dengan Arga.
“Oke, Ni. Kamu hati-hati, ya, nyetirnya. Inget, seminggu lagi hari yang penting buat kita. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Oh iya, juga jangan main hujan, ya!”
“Hahaha... siap, bos Arga. Udahan dulu, ya, antriannya udah mulai gerak, nih. Bye, hon.” Kania mengakhiri pembicaraan dengan kekasihnya, Arga, lalu mulai menjalankan mobilnya.
Ya, Kania dulu tak begini. Ia sama seperti orang-orang kebanyakan, membenci hujan. Menurutnya dulu, hujan hanya membuatnya susah. Menghambat kegiatannya, menjadikan rambutnya lepek padahal ia sudah bersusah payah menatanya dari pagi, menumbulkan hawa malas bagi orang-orang untuk beraktifitas. Ia juga pernah sangat membenci hujan. Hujan pernah membuatnya kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Kania tersenyum mengenang dirinya 5 tahun yang lalu. Banyak hal berubah dalam hidupnya selama 5 tahun ini. Dari Kania yang tidak suka hujan, menjadi Kania yang sangat tergila-gila dengan hujan. Dari Kania yang tidak bisa menerima kenyataan, menjadi Kania yang menerima dengan ikhlas semua cobaan di hidupnya. Dengan hujan, ia bertransformasi menjadi wanita yang kuat. Ia belajar mengikhlaskan kepergian Reindra dalam hujan. Ia masih ingat ucapan Reindra tentang hujan.
“Hujan, tuh, sesuatu yang harus disyukuri. Hujan itu karunia dari Tuhan, hadiah dari awan untuk tanah bumi ini. Itu tanda sayang dari awan untuk bumi. Makanya, kalo hujan bisa dikadoin, aku bakal kasih hujan ke kamu, Ni. Udah gitu, hujan itu sebuah awalan yang baru. Setelah hujan turun, pasti ada pelangi. Dan air yang ada di dalam kandungan awan pasti kembali kosong. Indah, kan?”
Bulan November, bagi Kania, sangat spesial. Di bulan ini, ia kehilangan orang yang pernah dan masih sangat disayanginya. Di bulan ini, ia belajar mencintai hujan seperti orang yang disayanginya mencintai hujan. Dan di bulan ini tepat di tahun ini, ia akan memulai lembaran barunya bersama Arga.
---
Hujan sudah berakhir hari itu, tetapi awan mendung masih setia menemani Kania. Ia berlutut disamping tempat peristirahatan Reindra untuk terakhir kalinya, sambil membawa sebuah surat dan setangkai mawar putih.
“Selamat ulang tahun, Re. Apa kabar kamu disana? Nggak kerasa, udah 5 tahun kamu pergi. Aku yakin kamu udah berada di tempat yang seharusnya, Re,” Kania tersenyum sambil mengelus penuh sayang nisan yang bercetakan nama Reindra diatasnya. “Terima kasih, Re, untuk semuanya. Terima kasih udah ngajarin aku arti kehilangan, ngajarin aku nerima kepergian kamu. Dalam lima tahun ini, aku belajar banyak hal. Aku bahkan bisa belajar mencintai hujan seperti kamu, dan yang paling penting aku bisa mencintai Arga. Terima kasih, Re, karena kamu kasih aku kesempatan untuk ketemu Arga setelah kamu pergi.”
Suara petir mulai bergemuruh, menandakan hujan akan turun kembali. Kania tersenyum, air mata menggenang di pelupuk matanya. “Aku yakin barusan pasti kamu nyoba ngomong ke aku. Hahaha... aku juga mau ngundang kamu, Re, ke pernikahan aku sama Arga. Aku tau aku udah nggak bisa ngeliat kamu lagi, tapi seenggaknya buat aku ngerasa kamu ada di deket aku, Re.”
Rintik-rintik kecil hujan mulai turun membasahi tanah pemakaman tersebut. Kania mengusap air matanya yang mulai menyentuh pipinya. “Terima kasih sekali lagi, Re. Maaf aku nggak bisa lama-lama. Aku selalu sayang kamu, Re.”
Tiba-tiba, rintik hujan tersebut tak lagi membasahi tubuh Kania. Seseorang telah memayunginya dari belakang. Ketika Kania membalikkan tubuhnya, Arga berdiri disana.
“Udah ku bilang, jangan hujan-hujanan!” Arga tersenyum melihat Kania yang terlihat mulai basah dan kedinginan. Kania hanya membalasnya dengan senyuman lebar.
“Udahan ngobrolnya? Yuk, pulang. Re, makasih ya udah mempercayakan Kania ke gue. Mohon doa restunya, ya.” Gantian Arga yang berlutut berbicara kepada nisan Reindra.
“Yuk, Ga.” Kania menarik tangan Arga. Mereka pun melangkah pergi ke depan tanpa menoleh kembali ke belakang, siap dengan lembaran baru yang akan mereka jalani nanti.




30 November 2011. 17.59.

Comments

Popular Posts